Rabu, 16 April 2014

Cerpen Sekolahku Prestasiku



Sekolahku Prestasiku

“Baik anak-anak, sekian pelajaran yang kita pelajari pada hari ini. Semoga  apa yang kita pelajari pada hari ini akan bermanfaat bagi kita semua. Wabillahi taufiq wal hidayah wassalamu’alaikum w.r.w.b” kurang lebih itulah yang diucapkan oleh Bu. Rika seorang guru Bahasa Indonesia yang baru saja usai mengajar di kelas IXC di SMPN 158 Jakarta.
“Hufft, ngantuk banget aku tadi waktu pelajaran” kata Chika kepada saudara kembarnya, Shinta. “Aduh Chikaa, gimanasih kamu, katanya mau mulai belajar serius, kita udah kelas IX nih, masa kamu masih santai-santai gitu aja?” ucap Shinta menasihati adiknya. “Iya iya. Tapi aku kan udah usaha, tapi tetep aja ngantuk, gimana nih cara yang ampuh buat ngilangin ngantuknya?” tanya Chika kepada sang kakak. “Ya asal kamu niat dan sungguh-sungguh aja sih kamu udah bisa ngilangin ngantuknya.” Nasihat Shinta.“ Ya tapi aku udah coba, tapi tetep aja nggak bisa.” Gerutu Chika “Berarti kamu kurang latihan, dan kamu belum terbiasa. Walaupun kamu belum terbiasa, tapi kalau kamu mau mencoba perlahan-lahan pasti bisa. Dan tentunya TETAP SEMANGAT!!!” Ucap Shinta memberi semangat kepada sang adik. “ Ok deh kak.” jawab Chika sembari tersenyum. Mereka terus saja melanjutkan obrolannya sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa waktu istirahat telah usai. Mereka pun kembali ke kelasnya.
Pelajaran selanjutnya telah dimulai. Dengan seketika suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar suara Pak. Narto guru yang menjelaskan materi sejarah. Mereka diam, bukan sebagai tanda telah mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh guru tersebut, tetapi mereka diam karena tidak mengerti satupun materi yang telah disampaikan. Mereka merasa pelajaran tersebut sangat membosankan. Dan hanya ada satu murid yang sungguh sungguh mendengarkan, Shinta.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba. Karena hal membosankan yang baru saja terjadi telah usai, hal itu dengan ditandai dengan alunan melodi yang memekakan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya yang berasal dari  bunyi bel sekolah sebagai tanda bahwa seluruh siswa-siswi harus pulang.
Shinta dan Chika sedang menunggu Pak Maman, yaitu sopir keluarga mereka yang biasa mengantar dan menjemput Chika dan Shinta kemana saja dan dimana saja. Selang beberapa menit akhirnya mobil yang dikendarai oleh Pak Maman telah terlihat dari tikungan menuju sekolah Chika dan Shinta.
Setelah sampai di rumah. Chika dan Shinta di panggil oleh Bunda Aida untuk segera ke ruang keluarga, kerena ada hal penting yang harus disampaikan kepada kedua putri kesayangannya tersebut.
“Ehm, Shinta, Chika.’’ Suara ayah Faisal memualai percakapan. “Iya yah.” Jawab Chika dan Shinta serempak. “Begini, kan ayah mulai besok akan di tugaskan di Gorontalo, jadi kita harus pindah ke Gorontalo sayang.” Ucap Ayah to the point. “Tapi kan yah, Aku Bunda sama Shinta kan bisa tinggal di sini, lagi pula kita udah kelas IX, masa harus ikut sih ke Gorontalo, kan nanggung Yah, baru awal semester pula. Lagi pula kan susah untuk mendapatkan sahabat yang sama seperti Rika dan Elsa Yah” Jawab Chika tidak setuju. “Tetap nggak bisa sayang, lagi pula Bunda takut untuk tinggal sendiri di sini, Ayah takut kalau bunda nggak bisa maksimal menjaga kalian saat Ayah pergi. Dan juga kalian kan masih awal semester jadi nggak terlalu sulit untuk mengurus kepindahan kalian, tadi Ayah sama Bunda sudah mengurus kepindahan kalian kok. Dan juga Ayah sama Bunda sudah menentukan sekolah mana yang akan menjadi sekolah baru kalian. Dan untuk berhubungan dengan sahabat kalian kan nggak susah, lagi pula sekarang kan udah ada media sosial, jadi kalian teteap bisa berhubungan dengan sahabat-sahabat kalian.” Jelas Ayah. “Iya deh Yah, kita nurut aja dengan apa yang ayah dan bunda inginkan.” Ucap Chika pasrah. “Ya sudah sekarang kalian prepare  barang-barang mana yang mau kalian bawa, pakaian kalain udah bunda packing  tinggal barang-barang sekunder aja yang belum bunda packing.” Kata bunda dengan penuh perhatian.
Saat berada dikamar Chika punya ide untuk pergi cafe tempat biasa mereka untuk nongkrong. Dan ide tersebut disetujui oleh saudara kembarnya. Jadi sekarang Shinta memutuskan untuk menelpon Elsa agar dia datang ke cafe tempat biasa.
“Hallo El, kita bisa enggak ketemu di cafe tempat kita kumpul biasanya, ada yang mau kita omongin nih ke kamu sama Rika, kamu telfon Rika ya sekarang.” Pinta Chika.
Emangnya ada hal penting apa sih, kok kita harus kumpul segala?” tanya Elsa.
“Udah pokoknya kamu sama Rika ke cafe biasanya aja, nanti aku kasih tau kamu sama Rika, soalnya nggak bisa kalau dijelasin di sini.” Tutur Chika.
“O ya udah, kalau gitu aku telpon Rika ya. Eh iya ke cafenya sekarang kan?” tanya Elsa.
“Iya sekarang, soalnya kalau ditunda-tunda takutnya nggak ada waktu buat  jelasin ke kalian.” Jelas Chika.
“ O ya udah, Bye.” Kata Elsa sebagai penutup.
“Ok Bye, see you.” Jawab Chika.
“Eh Shin, Elsa udah aku  telpon, nah sekarang kita siap-siap gih buat pergi ke cafe tempat biasa kita kumpul.” Tutur Chika  kepada Shinta.
“Ok Sip” sahut Shinta mantap.
Tak beberapa lama, akhirnya mereka sudah sampai ke cafe tempat mereka berkumpul biasanya. Saat berada di pintu masuk, Shinta  melihat Elsa dan Rika dari kejauhan yang sedang duduk di meja nomor 24. Sebelum Chika dan Shinta datang, Elsa dan Rika beberapa makanan dan minuman, yaitu berupa dua gelas Milk Shake  dan dua potong Cup Cake.
Setelah beberapa lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba. Dengan beberapa basa-basi akhirnya Chika dan Shinta mengutarakan apa yang ingin mereka katakan kepada kedua sahabatnya tersebut. Dan tak disangka kedua sahabat yang senantiasa menyimak apa yang telah diucapkan oleh Shinta pun shock.
 “Apa? Pindah ke Gorontalo? Besok? Tapi kenapa? Nah terus bagaimana dengan sekolah kalian? Kan kalian sudah kelas IX, semester awal pula? Tolong fikirin ini baik-baik, Chik, Shin!”  ucap Rika dengan ekspresi berlebihan.
“Iya kami harus pindah ke Gorontalo besok, karna ayah ada tugas ke Gorontalo dan tugas itu tidak bisa ditinggalkan, makanya kami harus ikut. Lagi pula kepindahan kami sudah diurus sama bunda dan ayah, sebenarnya kami tidak ingin ikut, tapi mau bagaimana lagi? bunda tidak berani jika di Jakarta sendiri, jadi otomatis kami harus ikut ayah ke Gorontalo. Ehm tapi jangan khawatir, kita kan masih bisa berhubungan lewat media sosial, kalian jelas taukan nama media sosial kami?” jawab Shinta dengan detail agar kedua sahabatnya tersebut dapat memahami keadaan tersebut.
“Kalau begitu, maafin kita ya, kalau selama ini kami punya salah yang tidak kami sadari terhadap kalian. Dan kalian harus janji kalau kalian nggak akan  melupakan kami.” Pinta Elsa mencoba untuk lebih tegar
“Iya, itu udah pasti dong. Kita janji, kita nggak akan lupain kalian. Ya udah, dari pada kita galau-galauan nggak jelas kayak gini, mendingan kita seneng-seneng aja untuk yang terakhir kalinya.” Pinta Chika. Akhirnya mereka bersenang-senang untuk merayakan hari terakhir Chika dan Shinta di Jakarta.
Tak terasa, sudah sekian waktu mereka lalui bersama untuk bersenang senang, sehingga mereka tidak tidak merasakan jika waktu  senja sudah tiba. Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Hari yang akan memisahkan Chika dengan kedua sahabatnya pun telah tiba. Shinta, Chika, Ayah, dan Bunda sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara pagi ini.
Setelah tiba di bandara, Chika dan Shinta pun terkejut. Mereka tidak menyangka jika Elsa dan Rika datang ke bandara untuk mengantar kepergian kedua sahabatnya tersebut.
“Elsa, Rika!” seru Chika dan Shinta secara bersamaan. Dan mereka langsung menghambur untuk memeluk kedua sahabat karibnya tersebut.
“Chik, Shin kalian baik-baik ya saat di sana nanti.” Ucap Elsa terisak di pelukan Sahabatnya tersebut.
“Iya Chik, Shin. Pokoknya kalian saat di sana nanti harus jaga diri baik-baik. Jangan pernah lupain kita. Dan tentunya tingkatkan prestasi kalian di sekolah yang baru.” Sambung Rika yang juga terisak.
“Iya pasti! Kalian nggak usah khawatir, kita pasti baik-baik aja kok di sana. Dan kalian tenang aja kami pasti selalu ingat kalian, kita nggak bakalan bisa untuk lupa sama kalian. Dan untuk prestasi, kami pasti akan meningkatkan prestasi kami demi kalian, ayah, Bunda dan Indonesia.” Terang Shinta panjang lebar. Suara ayah seketika membuyarkan percakapan mereka. Ayah bilang kalau sekarang sudah waktunya untuk pergi. Dan akhirnya mereka pun berpisah. Mereka percaya bahwa suatu saat nanti pasti mereka dapat bertemu kembali.
Beberapa jam kemudian pesawat sudah landing di salah satu bandara di Gorontalo, dan mereka langsung menuju rumah baru mereka.
“Alhamdulillah kita sudah sampai dengan selamat.” Ucap Bunda dengan penuh rasa syukur.
“Iya bun, oh iya, besok kita mau sekolah di mana?” tanya Shinta.
“Kalian besok akan bersekolah di SMP Bakti Muda. Nah sekarang kalian istirahat dulu ya supaya tidak kelelahan.
“Ok bun.” Sahut Chika dan Shinta secara kompak.
Tak terasa hari untuk memulai di sekolah baru pun telah tiba. Chika dan Shinta berangkat diantar oleh sang ayah. Mereka melalui perjalanan dengan penuh suka cita. Dan akhirnya mereka telah sampai di sekolah baru mereka. Ternyata sekolah baru yang dibilang oleh Bunda kemarin tidak sesuai dengan harapan Si Gadis Kembar tersebut, Chika dan Shinta  kurang suka dengan sekolah baru mereka, karena sekolah tersebut sangat berbeda dengan kondisi sekolah lama mereka. Tetapi ayah meyakinkan kedua putrinya tersebut agar tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar yang kurang baik. Tetapi merekalah yang harus mempengaruhi sekolah tersebut agar menjadi sekolah yang baik dengan prestasi prestasi mereka. Akhirnya Chika dan Shinta berjandi atas hal tersebut. Mereka berusaha agar janji itu akan terwujud.
Sesampainya di sekolah. Kepala sekolah sudah siap untuk menyambut mereka berdua. Akhirnya mereka diantar untuk masuk ke kelas masing-masing. Ternyata mereka berada dalam satu kelas yang sama, dan itu memudahkan mereka untuk beradaptasi lingkungan sekolah baru mereka.
Berada di sekolah baru memanglah hal yang tidak mudah. Apalagi sekolah tersebut terkenal dengan siswa-siswinya yang bandel. Tapi untunglah mereka masih memiliki dua sahabat baru, yaitu Jihan dan Rani. Di sekolah baru mereka, mereka mulai menunjukan prestasi-prestasi yang cukup gemilang. Hal itu sedikit merubah image  sekolah mereka menjadi sekolah yang lebih baik dari sebelumnya. Tapi perjuangan itu tidak mereka lalui dengan mudah. Tetapi melalui banyak rintangan, antara lain menghadapi teman-temannya yang kurang setuju dengan tindakan mereka. Mereka beranggapan jika sekolah ini mengalami peningkatan presatsi, maka belajar tambahan pun akan dilakukan. Tapi mereka tidak mau jika jam belajar tambahan di mulai.
“Eh Chik, Shin, kalian ikut tidak Olimpiade Matematika tingkat nasional  itu?” tanya Jihan.
“Kamu itu gimana sih Ji. Ya mereka tentu saja ikut lah.” Sahut Rani tiba-tiba.
“Ya mana aku tahu, ya mungkin saja mereka tidak ikut, kan aku cuma tanya.” Ucap Jihan.
“Sudah-sudah kalian tidak usah  bertengkar, aku sama Chika pasti ikut kok, lagi pula itukan memang impian kita untuk menjadikan sekolah kita untuk menjadi yang lebih baik.” Ucap Shinta.
“ Yaps. Thats Right!”  sahut Chika.
Ditengah-tengah percakapan muncul dua orang sahabat yang sangat membenci Chika dan Shinta yaitu, Jessica dan Shania. Jessica dan Shania membenci Si Kembar karena mereka iri akan prestasi yang telah diraih Si Kembar. Dan mereka tidak ingin jika mimpi dari Si Kembar selanjutnya menjadi nyata
“ Wow, kayaknya ada yang mimpi mau buat sekolah kita jadi LEBIH BAIK nih.” Sindir Jessica.
“Iya tuh, mimpi aja terus, nggak usah bangun-bangun hahahaha.” Ledek Shania.
“Hey, kita itu nggak mimpi ya, kita bakal buktiin kalau kita bisa buat sekolah ini menjadi lebih berprestasi!” sahut Chika dengan sedikat emosi.
“Udah lah Chik, kita nggak usah ladenin omongan mereka, lebih baik kita langsung buktiin aja bahwa kita bisa merubah citra sekolah ini untuk menjadi lebih baik.” Nasihat Shinta kepada Chika.
“Ya udah coba aja kalau kalian bisa. Hahaha. Ya udah Shan, kita pergi aja dari sini, nggak mutu deket-deket sama mereka“ lanjut Jessica  dengan tawa sinis.
“Ya udah yuk pergi. Bye bye loser!” ucap Shania kepada Chika, Shinta, Jihan dan juga Rani dengan ekspresi sinis.
Sambil berjalan meninggalkan Shinta, Chika, Jihan dan juga Rani. Shania dan Jessica memikirkan cara untuk menjatuhkan Shinta dan Chika.
“Eh, Shan kita harus gagalin rencana mereka.” Ucap Jessica kepada Shania ketika mininggalkan mereka.
“Iya bener banget tuh.” Balas Shania.
Hari-hari telah mereka lalui bersama, dan hari menuju olimpiade pun tinggal menghitung jam. Saat  Shinta dan Chika akan melakukan olimpiade mereka menemui beberapa halangan yang hampir saja membuat mereka terlambat.
“ Eh Chik, kita berangkat sekarang yuk, mumpung masih pagi.” Ajak Shinta kepada Chika.
“Iya, tapi kita ke sekolah sebentar ya, buat ketemu sama temen-temen.”
“Ya udah yuk  berangkat.” Ucap Chika.
Akhirnya mereka telah sampai di sekolah. Dan ternyata Jessica dan Shania sudah menyiapkan rencana jahatnya. Mereka mencoba menghambat Chika dan Shinta agar mereka terlambat untuk pergi dan terlambat agar psikis mereka down.
“Hai Chika, Shinta, gimana? Kalian udah siap belum?” tanya Jihan kepada Chika dan Shinta.
“ Ya udah dong.” Jawab Shinta dengan mantap.
“ Oh iya, doain kita ya, supaya bisa jadi juara olimpiade tingkat nasinal ini.” Pinta Shinta.
“Ya kalau itu mah pasti, kita bakal doain kalian untuk menjadi juara.” Ucap Rani.
“Ya udah kalau gitu kita berangkat dulu ya. Bye.” Ucap Shinta.
Bye,  semoga sukses!” ucap  Rani  memberi semangat kepada kedua sahabatnya tersebut.
Akhirnya Chika dan Shinta menuju parkiran. Dan ternyata ban mobil mereka kempis. Mereka sangat panik dan mereka meminta bantuan kesana-kemari, tapi hasilnya nihil. Setelah tiga puluh menit akhirnya mereka mendapat bantuan. Dan akhirnya mereka dapat pergi ke tempat olimpiade tersebut. Walaupun mereka sempat panik karena mereka telah terlambat tiga puluh  menit. Mereka mencoba untuk tetap tenang, mereka mencoba melakukan yang terbaik. Walau sebenarnya perasaan mereka cukup tidak tenang.
Mereka mengerjakannya dengan kemampuan yang terbaik walaupun sebenarnya psikis mereka masih agak down karena mereka terlambat hampir 45 menit. Tapi, ya sudahlah mereka mencoba tidak mengingat hal itu. Dan mereka hanya menunggu hasilnya yang akan diumumkan minggu depan.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Seluruh warga sekolah dan juga keluarga cemas akan hasil yang diraih Chika dan Shinta. Dengan mencoba untuk sedikit tenang, mereka membuka perlahan-lahan apa yang tertulis di dalamnya. Tak disangka mereka telah meraih gelar runner up Olimpiade Matematika Nasional tersebut. Walaupun bukan gelar juara yang mereka raih, tapi itu sudah cukup mengangkat image sekolah mereka untuk menjadi lebih baik dan mengubah masa depan sekolah mereka untuk menjadi yang lebih baik walau mereka hanya meraih gelar runner up.

by : Fitrotun Nisa'




Tidak ada komentar:

Posting Komentar