Sekolahku
Prestasiku
“Baik anak-anak, sekian
pelajaran yang kita pelajari pada hari ini. Semoga apa yang kita pelajari pada hari ini akan
bermanfaat bagi kita semua. Wabillahi
taufiq wal hidayah wassalamu’alaikum w.r.w.b” kurang lebih itulah yang
diucapkan oleh Bu. Rika seorang guru Bahasa Indonesia yang baru saja usai
mengajar di kelas IXC di SMPN 158 Jakarta.
“Hufft, ngantuk banget aku tadi waktu pelajaran” kata
Chika kepada saudara kembarnya, Shinta. “Aduh Chikaa, gimanasih kamu, katanya mau mulai belajar serius, kita udah kelas
IX nih, masa kamu masih santai-santai gitu aja?” ucap Shinta menasihati
adiknya. “Iya iya. Tapi aku kan udah
usaha, tapi tetep aja ngantuk, gimana nih cara yang ampuh buat ngilangin ngantuknya?” tanya Chika kepada sang kakak. “Ya asal kamu niat dan sungguh-sungguh aja
sih kamu udah bisa ngilangin ngantuknya.” Nasihat Shinta.“
Ya tapi aku udah coba, tapi tetep aja
nggak bisa.” Gerutu Chika “Berarti kamu kurang latihan, dan kamu belum terbiasa.
Walaupun kamu belum terbiasa, tapi kalau kamu mau mencoba perlahan-lahan pasti
bisa. Dan tentunya TETAP SEMANGAT!!!” Ucap Shinta memberi semangat kepada sang
adik. “ Ok deh kak.” jawab Chika sembari
tersenyum. Mereka terus saja melanjutkan obrolannya sampai-sampai mereka tidak
menyadari bahwa waktu istirahat telah usai. Mereka pun kembali ke kelasnya.
Pelajaran selanjutnya
telah dimulai. Dengan seketika suasana kelas menjadi hening, hanya terdengar
suara Pak. Narto guru yang menjelaskan materi sejarah. Mereka diam, bukan
sebagai tanda telah mengerti tentang apa yang dijelaskan oleh guru tersebut,
tetapi mereka diam karena tidak mengerti satupun materi yang telah disampaikan.
Mereka merasa pelajaran tersebut sangat membosankan. Dan hanya ada satu murid
yang sungguh sungguh mendengarkan, Shinta.
Akhirnya waktu yang
ditunggu-tunggu telah tiba. Karena hal membosankan yang baru saja terjadi telah
usai, hal itu dengan ditandai dengan alunan melodi yang memekakan telinga bagi
siapa saja yang mendengarnya yang berasal dari bunyi bel sekolah sebagai tanda bahwa seluruh
siswa-siswi harus pulang.
Shinta dan Chika sedang
menunggu Pak Maman, yaitu sopir keluarga mereka yang biasa mengantar dan
menjemput Chika dan Shinta kemana saja dan dimana saja. Selang beberapa menit
akhirnya mobil yang dikendarai oleh Pak Maman telah terlihat dari tikungan
menuju sekolah Chika dan Shinta.
Setelah sampai di
rumah. Chika dan Shinta di panggil oleh Bunda Aida untuk segera ke ruang
keluarga, kerena ada hal penting yang harus disampaikan kepada kedua putri
kesayangannya tersebut.
“Ehm, Shinta, Chika.’’
Suara ayah Faisal memualai percakapan. “Iya yah.” Jawab Chika dan Shinta
serempak. “Begini, kan ayah mulai besok akan di tugaskan di Gorontalo, jadi
kita harus pindah ke Gorontalo sayang.” Ucap Ayah to the point. “Tapi kan yah, Aku Bunda sama Shinta kan bisa tinggal
di sini, lagi pula kita udah kelas IX, masa harus ikut sih ke Gorontalo, kan nanggung Yah, baru awal semester pula.
Lagi pula kan susah untuk mendapatkan sahabat yang sama seperti Rika dan Elsa
Yah” Jawab Chika tidak setuju. “Tetap nggak
bisa sayang, lagi pula Bunda takut untuk tinggal sendiri di sini, Ayah takut
kalau bunda nggak bisa maksimal menjaga kalian saat Ayah pergi. Dan juga kalian
kan masih awal semester jadi nggak
terlalu sulit untuk mengurus kepindahan kalian, tadi Ayah sama Bunda sudah
mengurus kepindahan kalian kok. Dan
juga Ayah sama Bunda sudah menentukan sekolah mana yang akan menjadi sekolah
baru kalian. Dan untuk berhubungan dengan sahabat kalian kan nggak susah, lagi pula sekarang kan udah ada media sosial, jadi kalian
teteap bisa berhubungan dengan sahabat-sahabat kalian.” Jelas Ayah. “Iya deh
Yah, kita nurut aja dengan apa yang
ayah dan bunda inginkan.” Ucap Chika pasrah. “Ya sudah sekarang kalian prepare barang-barang mana yang mau kalian bawa,
pakaian kalain udah bunda packing tinggal barang-barang sekunder aja yang belum
bunda packing.” Kata bunda dengan
penuh perhatian.
Saat berada dikamar
Chika punya ide untuk pergi cafe
tempat biasa mereka untuk nongkrong. Dan
ide tersebut disetujui oleh saudara kembarnya. Jadi sekarang Shinta memutuskan
untuk menelpon Elsa agar dia datang ke cafe
tempat biasa.
“Hallo El, kita bisa
enggak ketemu di cafe tempat kita
kumpul biasanya, ada yang mau kita omongin
nih ke kamu sama Rika, kamu telfon Rika ya sekarang.” Pinta Chika.
“Emangnya ada hal penting apa sih,
kok kita harus kumpul segala?” tanya
Elsa.
“Udah pokoknya kamu
sama Rika ke cafe biasanya aja, nanti
aku kasih tau kamu sama Rika, soalnya nggak
bisa kalau dijelasin di sini.” Tutur Chika.
“O ya udah, kalau gitu
aku telpon Rika ya. Eh iya ke cafenya
sekarang kan?” tanya Elsa.
“Iya sekarang, soalnya
kalau ditunda-tunda takutnya nggak
ada waktu buat jelasin
ke kalian.” Jelas Chika.
“ O ya udah, Bye.” Kata Elsa sebagai penutup.
“Ok Bye, see you.” Jawab Chika.
“Eh Shin, Elsa udah aku
telpon, nah sekarang kita
siap-siap gih buat pergi ke cafe tempat biasa kita kumpul.” Tutur
Chika kepada Shinta.
“Ok Sip” sahut Shinta
mantap.
Tak beberapa lama, akhirnya
mereka sudah sampai ke cafe tempat
mereka berkumpul biasanya. Saat berada di pintu masuk, Shinta melihat Elsa dan Rika dari kejauhan yang
sedang duduk di meja nomor 24. Sebelum Chika dan Shinta datang, Elsa dan Rika beberapa
makanan dan minuman, yaitu berupa dua gelas Milk
Shake dan dua potong Cup Cake.
Setelah beberapa lama,
akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba. Dengan beberapa basa-basi akhirnya
Chika dan Shinta mengutarakan apa yang ingin mereka katakan kepada kedua
sahabatnya tersebut. Dan tak disangka kedua sahabat yang senantiasa menyimak
apa yang telah diucapkan oleh Shinta pun shock.
“Apa? Pindah ke Gorontalo? Besok? Tapi kenapa?
Nah terus bagaimana dengan sekolah kalian? Kan kalian sudah kelas IX, semester
awal pula? Tolong fikirin ini baik-baik, Chik, Shin!” ucap Rika dengan ekspresi berlebihan.
“Iya kami harus pindah
ke Gorontalo besok, karna ayah ada tugas ke Gorontalo dan tugas itu tidak bisa
ditinggalkan, makanya kami harus ikut. Lagi pula kepindahan kami sudah diurus sama bunda dan ayah, sebenarnya kami
tidak ingin ikut, tapi mau bagaimana lagi? bunda tidak berani jika di Jakarta sendiri,
jadi otomatis kami harus ikut ayah ke Gorontalo. Ehm tapi jangan khawatir, kita kan masih bisa berhubungan lewat
media sosial, kalian jelas taukan nama media sosial kami?” jawab Shinta dengan
detail agar kedua sahabatnya tersebut dapat memahami keadaan tersebut.
“Kalau begitu, maafin
kita ya, kalau selama ini kami punya salah yang tidak kami sadari terhadap
kalian. Dan kalian harus janji kalau kalian nggak akan melupakan kami.” Pinta Elsa mencoba untuk
lebih tegar
“Iya, itu udah pasti dong. Kita janji, kita nggak akan lupain kalian. Ya udah, dari pada kita galau-galauan nggak jelas kayak gini, mendingan kita seneng-seneng aja untuk yang
terakhir kalinya.” Pinta Chika. Akhirnya mereka bersenang-senang untuk
merayakan hari terakhir Chika dan Shinta di Jakarta.
Tak terasa, sudah
sekian waktu mereka lalui bersama untuk bersenang senang, sehingga mereka tidak
tidak merasakan jika waktu senja sudah
tiba. Dan mereka pun pulang ke rumah masing-masing.
Hari yang akan
memisahkan Chika dengan kedua sahabatnya pun telah tiba. Shinta, Chika, Ayah,
dan Bunda sudah bersiap-siap untuk pergi ke bandara pagi ini.
Setelah tiba di
bandara, Chika dan Shinta pun terkejut. Mereka tidak menyangka jika Elsa dan
Rika datang ke bandara untuk mengantar kepergian kedua sahabatnya tersebut.
“Elsa, Rika!” seru
Chika dan Shinta secara bersamaan. Dan mereka langsung menghambur untuk memeluk
kedua sahabat karibnya tersebut.
“Chik, Shin kalian
baik-baik ya saat di sana nanti.” Ucap Elsa terisak di pelukan Sahabatnya
tersebut.
“Iya Chik, Shin.
Pokoknya kalian saat di sana nanti harus jaga diri baik-baik. Jangan pernah
lupain kita. Dan tentunya tingkatkan prestasi kalian di sekolah yang baru.”
Sambung Rika yang juga terisak.
“Iya pasti! Kalian
nggak usah khawatir, kita pasti baik-baik aja kok di sana. Dan kalian tenang
aja kami pasti selalu ingat kalian, kita nggak
bakalan bisa untuk lupa sama kalian. Dan untuk prestasi, kami pasti akan
meningkatkan prestasi kami demi kalian, ayah, Bunda dan Indonesia.” Terang
Shinta panjang lebar. Suara ayah seketika membuyarkan percakapan mereka. Ayah
bilang kalau sekarang sudah waktunya untuk pergi. Dan akhirnya mereka pun
berpisah. Mereka percaya bahwa suatu saat nanti pasti mereka dapat bertemu
kembali.
Beberapa jam kemudian pesawat
sudah landing di salah satu bandara
di Gorontalo, dan mereka langsung menuju rumah baru mereka.
“Alhamdulillah kita
sudah sampai dengan selamat.” Ucap Bunda dengan penuh rasa syukur.
“Iya bun, oh iya, besok
kita mau sekolah di mana?” tanya Shinta.
“Kalian besok akan
bersekolah di SMP Bakti Muda. Nah
sekarang kalian istirahat dulu ya supaya tidak kelelahan.
“Ok bun.” Sahut Chika
dan Shinta secara kompak.
Tak terasa hari untuk
memulai di sekolah baru pun telah tiba. Chika dan Shinta berangkat diantar oleh
sang ayah. Mereka melalui perjalanan dengan penuh suka cita. Dan akhirnya
mereka telah sampai di sekolah baru mereka. Ternyata sekolah baru yang dibilang
oleh Bunda kemarin tidak sesuai dengan harapan Si Gadis Kembar tersebut, Chika
dan Shinta kurang suka dengan sekolah
baru mereka, karena sekolah tersebut sangat berbeda dengan kondisi sekolah lama
mereka. Tetapi ayah meyakinkan kedua putrinya tersebut agar tidak terpengaruh
oleh lingkungan sekitar yang kurang baik. Tetapi merekalah yang harus
mempengaruhi sekolah tersebut agar menjadi sekolah yang baik dengan prestasi
prestasi mereka. Akhirnya Chika dan Shinta berjandi atas hal tersebut. Mereka
berusaha agar janji itu akan terwujud.
Sesampainya di sekolah.
Kepala sekolah sudah siap untuk menyambut mereka berdua. Akhirnya mereka
diantar untuk masuk ke kelas masing-masing. Ternyata mereka berada dalam satu
kelas yang sama, dan itu memudahkan mereka untuk beradaptasi lingkungan sekolah
baru mereka.
Berada di sekolah baru
memanglah hal yang tidak mudah. Apalagi sekolah tersebut terkenal dengan
siswa-siswinya yang bandel. Tapi untunglah mereka masih memiliki dua sahabat
baru, yaitu Jihan dan Rani. Di sekolah baru mereka, mereka mulai menunjukan
prestasi-prestasi yang cukup gemilang. Hal itu sedikit merubah image sekolah mereka menjadi sekolah yang lebih baik
dari sebelumnya. Tapi perjuangan itu tidak mereka lalui dengan mudah. Tetapi
melalui banyak rintangan, antara lain menghadapi teman-temannya yang kurang
setuju dengan tindakan mereka. Mereka beranggapan jika sekolah ini mengalami
peningkatan presatsi, maka belajar tambahan pun akan dilakukan. Tapi mereka
tidak mau jika jam belajar tambahan di mulai.
“Eh Chik, Shin, kalian
ikut tidak Olimpiade Matematika tingkat nasional itu?” tanya Jihan.
“Kamu itu gimana sih
Ji. Ya mereka tentu saja ikut lah.” Sahut Rani tiba-tiba.
“Ya mana aku tahu, ya
mungkin saja mereka tidak ikut, kan aku cuma tanya.” Ucap Jihan.
“Sudah-sudah kalian
tidak usah bertengkar, aku sama Chika
pasti ikut kok, lagi pula itukan memang impian kita untuk menjadikan sekolah
kita untuk menjadi yang lebih baik.” Ucap Shinta.
“ Yaps. Thats Right!” sahut Chika.
Ditengah-tengah
percakapan muncul dua orang sahabat yang sangat membenci Chika dan Shinta
yaitu, Jessica dan Shania. Jessica dan Shania membenci Si Kembar karena mereka iri
akan prestasi yang telah diraih Si Kembar. Dan mereka tidak ingin jika mimpi
dari Si Kembar selanjutnya menjadi nyata
“ Wow, kayaknya ada
yang mimpi mau buat sekolah kita jadi LEBIH BAIK nih.” Sindir Jessica.
“Iya tuh, mimpi aja
terus, nggak usah bangun-bangun
hahahaha.” Ledek Shania.
“Hey, kita itu nggak
mimpi ya, kita bakal buktiin kalau kita bisa buat sekolah ini menjadi lebih
berprestasi!” sahut Chika dengan sedikat emosi.
“Udah lah Chik, kita
nggak usah ladenin omongan mereka, lebih baik kita langsung buktiin aja bahwa
kita bisa merubah citra sekolah ini untuk menjadi lebih baik.” Nasihat Shinta
kepada Chika.
“Ya udah coba aja kalau
kalian bisa. Hahaha. Ya udah Shan, kita pergi aja dari sini, nggak mutu
deket-deket sama mereka“ lanjut Jessica
dengan tawa sinis.
“Ya udah yuk pergi. Bye bye loser!” ucap Shania kepada Chika,
Shinta, Jihan dan juga Rani dengan ekspresi sinis.
Sambil berjalan
meninggalkan Shinta, Chika, Jihan dan juga Rani. Shania dan Jessica memikirkan
cara untuk menjatuhkan Shinta dan Chika.
“Eh, Shan kita harus
gagalin rencana mereka.” Ucap Jessica kepada Shania ketika mininggalkan mereka.
“Iya bener banget tuh.”
Balas Shania.
Hari-hari telah mereka
lalui bersama, dan hari menuju olimpiade pun tinggal menghitung jam. Saat Shinta dan Chika akan melakukan olimpiade
mereka menemui beberapa halangan yang hampir saja membuat mereka terlambat.
“ Eh Chik, kita
berangkat sekarang yuk, mumpung masih
pagi.” Ajak Shinta kepada Chika.
“Iya, tapi kita ke
sekolah sebentar ya, buat ketemu sama
temen-temen.”
“Ya udah yuk berangkat.” Ucap Chika.
Akhirnya mereka telah
sampai di sekolah. Dan ternyata Jessica dan Shania sudah menyiapkan rencana
jahatnya. Mereka mencoba menghambat Chika dan Shinta agar mereka terlambat
untuk pergi dan terlambat agar psikis mereka down.
“Hai Chika, Shinta, gimana? Kalian udah siap belum?” tanya Jihan kepada Chika dan Shinta.
“ Ya udah dong.” Jawab
Shinta dengan mantap.
“ Oh iya, doain kita
ya, supaya bisa jadi juara olimpiade tingkat nasinal ini.” Pinta Shinta.
“Ya kalau itu mah
pasti, kita bakal doain kalian untuk menjadi juara.” Ucap Rani.
“Ya udah kalau gitu
kita berangkat dulu ya. Bye.” Ucap
Shinta.
“Bye, semoga sukses!”
ucap Rani memberi semangat kepada kedua sahabatnya
tersebut.
Akhirnya Chika dan
Shinta menuju parkiran. Dan ternyata ban mobil mereka kempis. Mereka sangat
panik dan mereka meminta bantuan kesana-kemari, tapi hasilnya nihil. Setelah
tiga puluh menit akhirnya mereka mendapat bantuan. Dan akhirnya mereka dapat
pergi ke tempat olimpiade tersebut. Walaupun mereka sempat panik karena mereka
telah terlambat tiga puluh menit. Mereka
mencoba untuk tetap tenang, mereka mencoba melakukan yang terbaik. Walau
sebenarnya perasaan mereka cukup tidak tenang.
Mereka mengerjakannya
dengan kemampuan yang terbaik walaupun sebenarnya psikis mereka masih agak down karena mereka terlambat hampir 45
menit. Tapi, ya sudahlah mereka mencoba tidak mengingat hal itu. Dan mereka
hanya menunggu hasilnya yang akan diumumkan minggu depan.
Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Seluruh
warga sekolah dan juga keluarga cemas akan hasil yang diraih Chika dan Shinta.
Dengan mencoba untuk sedikit tenang, mereka membuka perlahan-lahan apa yang
tertulis di dalamnya. Tak disangka mereka telah meraih gelar runner up Olimpiade Matematika Nasional
tersebut. Walaupun bukan gelar juara yang mereka raih, tapi itu sudah cukup
mengangkat image sekolah mereka untuk
menjadi lebih baik dan mengubah masa depan sekolah mereka untuk menjadi yang
lebih baik walau mereka hanya meraih gelar runner
up.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar